21 January 2018

When I hear You


Beberapa minggu terakhir, sha lagi nonton drama korea judulnya "My Golden Life" . Cukup heran buat sha yang biasanya lebih seneng nonton drama romantis ala anak sekolahan, betah nonton drama korea ala sinetron Indonesia dengan tema putri yang tertukar. Bahkan sampe 38 episode! Banyak banget kan, di banding drama korea yang biasanya cuma belasan episode.

Salah satu ceritanya juga tentang Seo Ji Tae yang menikah dengan Lee Soo ah dan membuat perjanjian pra nikah kalau mereka gak akan punya anak. Di tengah perjalanan kehidupan rumah tangga mereka, tiba-tiba Lee Soo ah hamil. Seo Ji Tae terpana saat mendengar detak jantung sang janin dan pengen tetep rawat bayinya meski keadaan mereka gak memungkinkan. Lee Soo ah tetep pengen aborsi dan gugurin anaknya.


Hal ini ngingetin sha tentang banyak kejadian kilas balik yang pernah sha alamin selama sha jaga di poli kandungan.

Waktu itu, sha jadi asistennya dr. Ai di salah satu rumah sakit. Datenglah seorang ibu cukup muda. 

Begitu di periksa USG, dokter Ai dengan riang gembira bilang "Ibu, selamat ya! Janinnya kembar. Liat ini, janinnya gerak-gerak. Gemes banget! Nah, kalau ini suaranya, dengerin ya bu" 

Ibunya langsung cirambayan, bercucuran air mata. Dr. Ai ngejelasin tentang USG, kehamilan, do and dont. Sepanjang itu, ibunya cuma nganguk-ngangguk tanpa bicara sepetah kata pun sampai selesai pemeriksaan.

Selang beberapa pasien, tiba-tiba ibu tadi masuk lagi ke ruangan kami dengan suaminya. Diam-diam dan tak lama mengutarakan niat mereka untuk aborsi. 

Dr. Ai dengan pelan-pelan, penuh pengertian, logis dan menjelaskan dengan luar biasa menurut sha. Menguatkan pasangan tersebut untuk keep the baby di tengah himpitan ekonomi keluarga mereka.

Lalu datang lagi pasien yang lain, dengan senyum mengembang di bibirnya. Bertanya "Dok, saya sudah testpack dan positif. Pengen ngecek utun."

Dr Ai jawab "Ibu, ini pertama kalinya di USG ya?"

Ibu mengangguk dan berucap Iya. Sha dengan excited ngasih gel untuk USG. Tak lama, dr Ai terdiam dan berucap lirih "Ibu, liat sini."

Ibu memperhatikan layar USG dan mendengarkan penjelasan. "Ini, kantung kehamilan ibu. Tapi ini, namanya Blighted Ovum (BO) atau hamil kosong. Ibu gak bisa denger detak jantungnya kan? Itu karena embrio (janin) nya tidak berkembang. Jadi, ibu memang mengalami tanda-tanda kehamilan tapi yang membesar hanya kantungnya saja. Ini harus digugurkan (aborsi). Ibu, kesini sama suami?" 

suami saya kerja, ibu menjawab dengan tertahan. "Ibu, bilang dulu ke suami. Nanti saya jadwalkan untuk prosesnya"

Mata ibu berkaca-kaca hendak menangis, senyum yang mengantarnya ke poli kami langsung menghilang. Dr Ai meminta ibu untuk memberitahu suaminya dan menjadwalkan untuk aborsi/kuretase.

Setelah jadwal poli selesai, kami sempat berbincang panjang mengenai tingginya aborsi yang ternyata banyak dilakukan oleh pasangan menikah karena "kecolongan" juga ketidaksiapan dalam hal ekonomi. Aborsi tipe ini biasanya kurang mendapat perhatian karena mereka merupakan pasangan yang sah. Beda dengan kasus MBA. 

Sedang kasus kedua, Aborsi harus dilakukan untuk kesehatan sang ibu. Aborsi memang boleh dilakukan untuk alasan keselamatan ibu karena beresiko tinggi. Namun, untuk hal-hal diluar itu aborsi sangat tidak dianjurkan dan ilegal.

Sejatinya, kehidupan memang berputar. Apa yang membuat kita sedih bisa jadi orang lain menantikan hal itu. Kuncinya tetap bersyukur dan mengikuti jalan takdir yang sudah diberikan 😊

28 comments

  1. Jadi sedih membayangkan raut wajah ibu yang kedua. 😢😢😢

    ReplyDelete
  2. Dulu saya pengen punya anak kembar boy n girl tapi sekarang punya 1 rempong berbi hehe iya Sha bersyukur saja ya, ikhlasin aja kalau mamski belum bisa nonton korea juga ups

    ReplyDelete
  3. nikah emang nggak segampang keliatannya. harus siap segala sesuatunya terutama mental.

    ReplyDelete
  4. Pernah ada teman yang mengaku hamil, tapi beberapa bulan kesepan dia bilang bayinya dalam kandungan hilang dan dia tidak merasakan lagi ada sesuatu dalam
    kandungannya, apa ini termasuk dengan istilah Blighted Ovum (BO) atau hamil kosong, tp beliau tidak melakukan operasi dan perutnya kempes gitu aja Sha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada dua kemungkinan, kalau BO biasanya ketauannya lebih cepet. gak sampe 9 bulan. Emangnya selama 9 bulan itu gak di usg atau periksa ke dokter sama sekali?
      yang kedua kemungkinan si Ibu ngalamin Pseudocyesis alias hamil palsu. Biasanya ini gegara mental karena emang pengen banget hamil, jadi tubuhnya berubah seolah2 ada tanda2 hamil padahal enggak. Kayaknya lebih ke nomor 2 kalau perutnya kempes gitu aja..

      Delete
  5. saya gak suka drakor, mending sinetron indo. :D hehehe cintai produk Indonesia. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, saya juga cinta produk indonesia kok. Tapi, yang berkualitas :)

      Delete
  6. ya ampun sedih bacanya mba Sha ada yang sangat mengharapkan tapi justru realnya ga sesuai harapannya yah dan sebaliknya :(

    ReplyDelete
  7. wkwkkwkwkw kok sama yah aku juga lagi nonton yg itu juga astaga ....
    panjang amat episodenya yah mbak ampe 50 blon kelar juga dari tahun lalu
    #jadi bahas drakor

    ReplyDelete
  8. Sedih ngebayangin si ibu yang dianjurkan untuk kuretase. Huk..huk..sing sabar ya bu, insya allah diganti dengan yang lebih baik oleh Allah Ta'ala.

    Kirain bakal nge-resensi si drakor, taunya...but I like the way you write it...

    ReplyDelete
  9. Wah ternyata mba suka nonton drakor juga? Sama kita ��. Cuma klo episodenya sampai 38 gtu. Aduhhhh saya blum kuat. Soalnya masih punya anak kcil ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. sha juga nontonnya on going mbak. tiap minggu 2 episode sesuai yg tayang di korea hehe

      Delete
  10. gak kebayang kalau aku jadi ibu yang kedua. secara udah harapin banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, senyumnya langsung ilang. diem, kebayang sedihnya. tp ekspresinya datar mbak :( cuma keluar air mata..

      Delete
  11. sedih bacanya sha....selalu ada cerita di balik ruang poli kandungan ya, entah yang gembira maupun sedih... :( Salam kenal ya sha

    ReplyDelete

Latest Instagrams

© Vanisa Desfriani. Design by FCD.