13 September 2020

Perjalanan Panjang

 


Bulan oktober tahun lalu, aa sempat batuk 3 hari dan malamnya selalu keluar keringat dingin. Waktu itu sha langsung inisiatif ajak a ke lab untuk rontgen thorax dan test dahak. Beberapahari berselang, saat hasil rontgennya keluar sha baca ekspertisenya, ada efusi fleura.


Karena udah malam juga sha nyoba konsul via aplikasi halodoc. Waktu itu sha fotoin hasil rontgen a dan dokternya bilang kalau itu luluh lobus yang secara langsung hasilnya sha sangkal karena jujur terlalu syok dan gak percaya.



Besoknya kita ke RS. Soreang karena paling deket dari rumah, di kasih antibiotik plus obat dan jadwal untuk USG Thorax. Begitu USG thorax keluar hasilnya, memang ada efusi pleura bersepta-septa. Kita pun di rujuk ke hasan sadikin karena di soreang gak ada dokter paru. Berhubung hasan sadikin jauh dan kita bayar umum, kita pilih yang lebih deket ke santosa kopo.


Dalam jangika waktu itu, waktu sha kerja di klinik ada pasien yang batuk tepat ke muka sha. Pulangnya sha batuk-batuk sampe beberapa hari. Sepertinya, dari sini sha nularin juga ke aa.


Karena baru dua kali berobat ke santosa kopo, aa di rontgen ulang. Bahkan hasil rontgen pun belum keluar, aa batuk parah di rumah sampai sesak. Malam itu kita pergi ke UGD santosa kopo, a dapat beberapa perawatan dan karena kamar penuh semua. Jam dua pagi kita pulang, memutuskan untuk ke rotinsulu paginya (setelah batu di telfon rotinuslu yang available kamar rawat inap).


Aa di rawat inap di RS Rotinsulu 5 hari dengan pneumonia. Juga efusi pleuranya sempat di thoracocentesis namun hasilnya negatif. 


Sha juga masih batuk waktu itu dan sempat rontgen juga. Sha kena bronchopneumonia, itu kenapa sha ngerasa sha yang nularin ke aa waktu itu.


Kita berdua berobat rawat jalan, sha ke santosa kopo, a ke rs rotinsulu.


Sha sembuh setelah batuk satu bulan, a masi rawat jalan dengan beberapa obat. Tapi waktu itu kok rasanya ada yang mengganjal setelah berobat 3 bulan dan obatnya dihentikan. Kita searching dan nemuin di youtube ada yang share dengan gejala yang sama kaya a. Dari situlah kita inisiatif berobat ke dokter bedah thorax setelah selama ini berobat ke dokter paru.


Kita kan berobat dengan bpjs beberapa kali tapi susah buat ketemu dokter spesialis karena ketemunya sama dokter residen atau asistennya. Sha juga ada ngobrol sama teman di rshs dan disaranin ke dokter rama bedah thorax.


Ketemu dokter rama agak susah juga karena on call, hanya ketemu asistennya dan kita disaranin buat CT Scan. Setelah CT Scan keluar, kita pindah ke RS Santosa kebon jati biar langsung ketemu dokter rama. Dari situ ketauan kalo aa trapped lung atelectasis dan harus di operasi.


Sha jadi putar balik waktu chat sama dokter halodoc, waktu dokternya bilang luluh lobus sha gak percaya (lebih ke takut sebenernya) dan 5 bulan lebih dari chat itu, aa ternyata trapped lung. Pemikiran awal sha yang salah karena kalau konsul via chat kan dokter gak bener-bener liat kondisi pasien, gak megang pasien dan hanya berdasarkan katanya (kata-kata yang kita kasih tahu ke dokter). Tapi ternyata meski via chat dokternya bisa bikin diagnosis yang sesuai asal kita bisa menjelaskan dengan tepat apa yang dirasakan pasien. Konsul dengan dokter via halodoc ternyata sangat membantu, kalo waktu itu sha gak terlalu takut mungkin udah ketauan lebih cepat.


Akhir maret itu aa gak jadi di operasi karena corona dan ditunda selama 3 bulan.


Bulan juli kita kontrol lagi, dokter rama sebelumnya nyaranin untuk operasi di RSHS saja. Kita pun urus semua persiapan operasi dari mulai test darah, rontgen ulang, ekg, faal paru dan lain-lain. Namun setelah semuahasil keluar dan siap operasi, ruang operasi ditutup lagi karena corona makin banyak.


Merasa sudah ditunda terlalu lama, kita ke santosa kebon jati lagi, sekali ketemu dokter rama langsung di jadwalkan operasi tanggal 28 agustus dan mulai rawat inap 27 agustus.


Tanggal 26 agustus kita sudah dapat sms dari rs santosa untuk masuk rawat inap tanggal 27 jam 12.00 WIB, besoknya kita ke rs santosa, urus pendaftaran rawat inap, test lab, rontgen ulang, ekg ulang.


Untuk operasi ini tentu harus ada hasil test covid-19. entah itu rapid test dan test PCR. btw, untuk teman-teman yang ingin PCR test bisa cari di aplikasi halodoc juga. Aa sebelum itu rapid test di RS Salamun, lalu PCR di Rs Santosa Kebon jati.


Waktu operasi tiba, sejujurnya gak pernah dibayangin kalau kita berdua harus melewati ini. Mengantar a masuk ruang operasi jam 8 pagi. Sebelumnya dokter blang operasi berjalan 2-3 jam. Tapi waktu itu sudah jam 11 siang a belum juga selesai. Jam 12, jam 1 juga belum selesai. Perasaan sha udah campur aduk banget waktu itu. Akhrnya operasi selesai jam 2 siang.


Lihat orang lain yang selesai operasi masuk ruang pemulihan, sedangkan aa selesai operasi langsung masuk ICU. Meski dokter sudah bilang sebelumnya, jujur sha masih gak tenang. Dan di ruang ICU itu kan gak boleh ditengok sama sekali.


Waktu itu sha dapat alasan buat masuk ICU karena ada obat rutin yang di minum aa. Langsung tenang waktu liat aa ngelambain tangan ke sha meski selang dimana-mana.


Besoknya sha dipanggil lagi ke ruang ICU buat nyuapin. Untunnya, a tiap makan manggil keluarga buat disuapin jadi sha bisa masuk ke ruang ICU.


Dua hari di ICU, a pindah ke ruang rawat inap dengan selang yang masih nyambung ke dada. Setelah 6 hari selangnya baru di cabut. Dan selama 6 hari itu pula kita cuma berdua di rumah sakit. Sama sekali gak boleh ditengok karena lagi darurat corona. 


Sekarang udah seminggu sejak a pulang dari rumah sakit. Kalau kita mencari-cari kenapa bisa kaya gini, kitapun gatau. Padahal aa sama sekali gak ngerokok. Dan ini bener-bener jadi pelajaran banget buat kita. Ada masa dimana dalam 5 hari, 4 harinya kita harus ke rumah sakit. Dan juga dalam melewati fase ini, sha memutuskan keluar kerja.


Well yah, buat kita semua, jangan lupa pakai masker! bukan cuma karena corona tapi ada banyak penyakit lain yang bisa dengan mudah menularnya. Tetap jaga kesehatan, olahraga, makan yang sehat tak hanya makan yang enak 😊

1 comment

  1. sejujurnya banyak istilah medis yang aku nggak ngerti, tapi kalo baca rasanya bukan hal yang membahagiakan.

    semoga segera sembuh dan kembali sehat ya

    ReplyDelete

© Vanisa Desfriani. Design by FCD.