23 May 2012 Singaparna, Indonesia

TETANUS DAN TETANUS NEONATORUM


TETANUS DAN TETANUS NEONATORUM
BATASAN
Penyakit toksemik akut yg disebabkan oleh eksotoksin Clostridium tetani

KLASIFIKASI
Manifestasi klinis : lokal, sefal, umum dan neonatorum
Berat-ringannya penyakit : I (ringan), II (sedang), III (berat), IV (sangat berat)

PATOFISIOLOGI
Manifestasi klinis akibat g3 inhibisi presinaps yg menyebabkan generator of pathological enhanced excitation

KRITERIA DIAGNOSIS
Riwayat trauma, pemotongan/perawatan tali pusat tidak steril, tidak diimunisasi tetanus (tidak lengkap)
Derajat I
Trismus ringan–sedang, kekakuan umum, Spasme (-), Disfagia (-)/ringan, g3 respirasi (-)
Derajat II
Trismus sedang, Kekakuan jelas, Spasme hanya sebentar, Takipnea, Disfagia ringan
Derajat III
Trismus berat, Otot spastis, Spasme spontan, Takipnea, Apneic spell, Disfagia berat, Takikardia, Aktivitas sistem autonom meningkat
Derajat IV (Derajat III + g3 autonom berat, Hipertensi berat dan takikardia atau, Hipotensi dan bradikardia, Hipertensi berat atau hipotensi berat

DIAGNOSIS BANDING

Abses gigi, parafaring/retrofaring/peritonsiler ; Poliomielitis ; Meningitis bakterialis stadium awal ; Ensefalitis ; Rabies ; Keracunan strihnin ; Efek simpang fenotiazin ; Tetani ; Epilepsi

TERAPI
Spasme sangat hebat → pankuronium bromid 0,02 mg/kgBB i.v. diikuti 0,05 mg/kgBB/dosis setiap 2-3 jam
Bila terjadi aktivitas simpatis yang berlebihan, atasi dg beta bloker (propanolol / alfa & beta bloker labetolol)

PENANGANAN DASAR
Antibiotik
  • Penisilin prokain 50.000 IU/kgBB/kali i.m. tiap 12 jam, atau
  • Ampisilin 150 mg/kgBB/hari i.v. dibagi dalam 4 dosis, atau
  • Tetrasiklin 25-50 mg/kgBB/hari p.o. dibagi dalam 4 dosis (maks. 2 g), atau
  • Sefalosporin generasi ke-3, atau
  • Metronidazol loading dose 15 mg/kgBB/jam selanjutnya 7,5 mg/kgBB tiap 6 jam, atau
  • Eritromisin 40-50 mg/kgBB/hari p.o dibagi dalam 4 dosis

Catatan :
Tetanus neonatorum  : + gentamisin 5-7 mg/kgBB/hari i.v. dibagi dalam 2 dosis
Bila ada sepsis atau pneumonia + antibiotik lain (metisilin, sefalosporin dll)

Netralisasi toksin
  • Human tetanus immunoglobulin (HTIG) 3.000-6.000 IU i.m. (u/ TN : 500 IU i.v.)
  • Bila tidak tersedia, berikan anti tetanus serum (ATS) 50.000-100.000 IU, ½ i.m. dan ½ i.v. (skin test) (u/ TN 10.000 IU i.v.)
  • Anti kejang
  • Diazepam 0,1-0,3 mg/kgBB/kali i.v. tiap 2-4 jam, TN 0,3-0,5 mg/kgBB/kali
  • Dalam keadaan berat : diazepam drip 20 mg/kgBB/hari dirawat di PICU/NICU
  • Dosis pemeliharaan 8 mg/kgBB/hari p.o. dibagi dalam 6-8 dosis
  • Perawatan luka
  • Dilakukan setelah diberi anti toksin dan anti kejang

PENANGANAN UMUM
(Bebaskan jalan nafas dan pemberian O2, stimulasi minimal)

PROGNOSIS
Tergantung skoring Black (1991)
     Skor  : 0-1  (ringan)           -- kematian   < 10%
                           2-3   (sedang)         -- kematian   10-20%
                              4   (berat)           -- kematian   20-40%
                           5-6  (sangat berat) -– kematian   > 50%

ASFIKSIA


ASFIKSIA

WHO (1995) : 3% dari 120 jt BBL mengalami asfiksia dan 1 juta diantaranya kemudian meninggal
Indonesia : 47% kematian bayi terjadi pada masa neonatal, penyebabnya :
  • BBLR 29%
  • Asfiksia 27%
  • Trauma lahir        
  • Tetanus neonatorum
  • Infeksi lain
  • Kelainan kongenital


BATASAN
Asfiksia : Keadaan BBL tidak bernafas secara spontan dan teratur  Hipoksia, hiperkarbia, asidosis

KLASIFIKASI 
  • Tanpa  asfiksia : Nilai  APGAR  8-10
  • Asfiksia ringan-sedang : Nilai  APGAR  4-7 
  • Asfiksia berat : Nilai  APGAR  0-3

PENYEBAB
  • Keadaan Ibu
  • Keadaan Tali pusat
  • Keadaan Bayi


KEADAAN IBU
  Keadaan yang menyebabkan aliran darah ke plasenta berkurang => Oksigen ke janin berkurang => gawat janin => asfiksia pada BBL
Keadaan tsb al :
  • Preeklampsi/Eklampsi
  • Perdarahan abnormal
  • Partus lama / macet
  • Demam selama persalinan
  • Infeksi berat
  • Serotinus

Keadaan tali pusat
  Keadaan yang menyebabkan aliran darah ke bayi berkurang => Oksigen ke janin berkurang => gawat janin => asfiksia pada BBL
Keadaan tsb al :
  • Lilitan tali pusat
  • Tali pusat pendek
  • Simpul tali pusat
  • Prolapsus tali pusat


Keadaan bayi
  Keadaan dimana bayi akan mengalami asfiksia
Keadaan tsb al :
  • Prematur
  • Persalinan Sulit (sungsang, kembar, distosia bahu, VE, forcep)
  • Kelainan Kongenital
  • Air Ketuban Bercampur meconium

GAWAT JANIN
Sebagai akibat dari bayi kekurangan oksigen
Ciri-ciri :
  • BJA 120 > x > 160
  • Gerakan janin berkurang
  • Ketuban bercampur mekonium
  • Penanganan :
  • Berikan O2 pada Ibu


PATOFISIOLOGI


- Asfiksia => Redistribusi aliran darah ke jantung, otak dan adrenal agar kebutuhan O2 dan substrat terhadap organ vital tsb. terpenuhi, melalui :
  • Mekanisme hipoksia / hiperkarbia
  • Aktivitas simpatis yang meningkat
  • Kemoreseptor, terjadi pelepasan vasopresin arginin

- Aliran darah ke otak lebih banyak ke batang otak daripada ke serebrum (korteks) => focus injury di kolateral korteks (parasagital watershed area).
- Redistribusi darah ke otak dan jantung => ischemic injury pada tubulus ginjal proksimal => nekrosis epitel tubulus => GGA
- Asfiksia berlanjut, terjadi :
  • Perangsangan kemoreseptor melalui regulasi n. vagus => bradikardia
  • Kegagalan autoregulasi aliran darah ke otak dan jantung => tekanan darah dan curah jantung menurun

KRITERIA  DIAGNOSIS
Sesuai dengan batasan dan klasifikasi

PEMERIKSAAN  PENUNJANG
Laboratorium     :
  • Darah : Analisis gas, elektrolit, glukosa (dekstrostiks)
  • Radiologi : Foto toraks, USG, CT scan kepala

PENYULIT
  • Hipoksia, edema dan nekrosis serebral        
  • Perdarahan intra ventrikular                          
  • Shock lung dan/atau sindroma distres pernafasan, perdarahan paru                     
  • KID
  • Perforasi usus  
  • EKN       
  • Perdarahan adrenal
  • Bangkitan
  • Gagal ginjal
  • Gagal jantung
  • Hipertensi pulmonal
  • Gangguan metabolik 
  • Hipoglikemia
  • Hiperglikemia
  • Hipokalsemia Hiponatremia
  • Asidosis metabolik

TERAPI
  • Resusitasi efektif

SKOR APGAR
  • Dinilai pada 1 dan 5 menit
  • Bila skor < 7, penilaian dilanjutkan pada 10, 15 dan 20 menit
  • Penyesuaian tahap dan intensitas upaya resusitasi harus terus dilakukan berdasar  perubahan nilai APGAR.


Singaparna, Indonesia

ANGKA KEMATIAN BAYI DAN ANGKA KEMATIAN BALITA


Angka Kematian Bayi  (AKB)
Definisi 
     Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu

Konsep Dasar AKB:
1. Kematian Bayi (usia lahir - <1 th)
2. Penyebab bisa endogen/eksogen.
3. Endogen (kematian neonatal): Kematian pada bulan pertama. Penyebab :  Faktor yang dibawa sejak lahir/  diperoleh dari orang tua saat konsepsi/selama  kehamilan
4. Eksogen (kematian post neo-natal) : Kematian setelah usia 1 bulan - 1 tahun.  Penyebab bertalian dengan pengaruh lingkungan luar

Kegunaan AKB
1. Menggabungkan keadaan sosek masyarakat
2.  Pengembangan perencanaan
3. Sebab Endogen: Prog. pelayanan kesehatan Ibu hamil (pemberian pil besi & suntikan TT)
4. Sebab Eksogen: Pengembangan program imunisasi, Prog. pencegahan penyakit menular (pada anak2), Prog. penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat pada balita

AKB Masih Tinggi yaitu 35/1000 kelahiran hidup
Laporan BPS:
  • Th 1967 s/d 1996 cenderung menurun
  • Th 1967-1976 (9 tahun) penurunan rata2 per tahun adalah 3,2 % yaitu dari 145 menjadi 109 per 1.000 kelahiran hidup
  • Periode 1986-1992 penurunannya rata2 per tahun adalah 4,1 % yaitu dari 71 menjadi 60 per 1.000 kelahiran hidup
  • Hasil proyeksi terlihat bahwa AKB pada tahun 1992 sebesar 60 per 1.000 kelahiran hidup yang cenderung menurun menjadi 54 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1996
  • Sedangkan berdasarkan jenis kelamin terlihat bahwa angka kematian pada bayi laki-laki tampaknya lebih besar dibandingkan pada bayi perempuan.
  • Dinkes Jabar 2005 : 43/1000 kelahiran hidup (+ 2000 bayi), nasional 36/1000 kelahiran hidup
Pola penyakit penyebab kematian bayi
  • SKRT th 1986 berbeda dengan SKRT th 1992 (Beda jumlah propinsi yang dijadikan sampel)
  • SKRT 1986
  • Tetanus Neonatorum (19,3%) (ke-1)
  • SKRT 1992
  • ISPA (36%) (ke-1)
  • Gangguan perinatal (ke-5)
Pola penyakit penyebab kematian bayi
  • SKRT 1995
  • Penyakit sistem pernapasan (ke-1)
  • Gangguan perinatal (ke-2)
  • Jawa-Bali
  • Gangguan perinatal (33,5%)
  • Luar Jawa Bali
  • Penyakit Sistem pernafasan
Cara Menghitung AKB

AKB            = Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate (IMR)
D 0-<1th      =Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu  di daerah tertentu.
∑lahir hidup  = Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu di  daerah tertentu 
K                 = 1000


Angka Kematian Balita (AKABA)
Konsep
    Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir, yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari). Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun

Definisi
      Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi)
Menggabungkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan.

Estimasi BPS

Th 1986 – 1993 terdapat penurunan yang cukup berarti, yaitu dari 111 per 1.000 menjadi 81 per 1.000 kelahiran hidup
Angka kematian tertinggi pada Propinsi Nusa Tenggara Barat (162 per 1000 kelahiran hidup) dan  terendah di Propinsi DKI Jakarta ( 47 per 1.000 kelahiran hidup).
Penyakit Penyebab, SKRT 1995, 5 (lima) penyakit :
  • Sistem Pernafasan (30,8%)
  • Gangguan perinatal (21,6%)
  • Diare (15,3%)
  • Infeksi dan parasit lain (6,3%)
  • Saraf (5,5%), serta Tetanus (3,6%)
Cara Menghitung 

Jumlah Kematian Balita (0-4)th  = Banyaknya kematian anak berusia 0-4 th pada satu tahun  tertentu di daerah tertentu
Jumlah Penduduk Balita (0-4)th = jumlah penduduk berusia 0-4 th pada pertengahan tahun tertentu di daerah tertentu
K = Konstanta, umumnya 1000

21 May 2012

Penyakit Menular Seksual

1. Gonore (gonorrhoeae)

E/ : Neisseria gonorrhoeae
bakteri diplokokkus gram negatif

  • dapat ditemukan pada urethra, serviks, anusa dan naso faring
  • epitel kolumnar dan epitel pada zona transisional di saluran genital merupakan tempat invasi ke dalam tubuh
  • dapat menyebar ke saluran genital atas
  • 20-40 % penderita GO disertai infeksi klamidia
A. Gejala
  • gejala awal : kebanyakan tidak punya keluhan, lekore, polakisuri, rectal discomfort, inkubasi 3-5 hari
  • lekore
  • bartholinitis, biasanya unilateral
  • inflamasi anorektal, keluar sekret dari anus disertai perasaan gatal
B.Pemeriksaan Laboratorium
  • pemeriksaan bakteriologis sangat membantu untuk menegakkan diagnosis gonore
  • sering disertai infeksi menular seksual lainnya sehingga harus dilakukan pemeriksaan infeksi lainnya : klamidia dan sifilis

penyulit :
  • salpingitis
  • abses pelvis
  • infeksi sistemik
pencegahan :
  • penapisan dan terapi pada penderita infeksi asimtomatik
  • penapisan infeksi pada golongan resiko
  • pemakaian kondom
  • terapi terhadap pasangan seksual penderita

terapi :
  • karena kemungkinan adanya infeksi campuran maka terapi selain ditujukan untuk gonore juga unuk klamidia

A. Infeksi tanpa komplikasi
  • seftriakson 125 mg Im + doksisiklon 2x100 mg selama 7 hari
  • sefiksim 0.4 ,g PO dosis tunggal + dosisiklin 2x100 mg selama 7 hari
  • ofloksasin 0.4 ,g + dosisiklin 2x100 mg selama 7 hari
  • bila tidak tahan tetrasiklin dapat di ganti dengan eritromisin 4x500 mg selama 7 hari

Infeksi Sistemik

- harus dirawat
- dapat mengenai jantung atau dapat terjadi meningitis
  • seftriakson 1 gr iv tiap 24 jam
  • sefotaksim 1 gr tiap 8 jam
  • spektinomisin 2 gr im tiap 12 jam
  • semua terapi harus diberikan selama 7 hari
prognosisi
  • penderita yang dapat segera diterapi mempunyai prognosis yang baik
  • infertilitas merupakan sekuele infeksi gonore

2. Sifilis (lues)

  • E/ : Treponema pallidum
  • dapat menyebar dengan cara kontak langsung dengan lesi terinkesi
  • dapat menembus mukosa yang utuh kemudian menyebar ke dalam tubuh
  • ulkus akan terbentuk 10-90 hari setelah invasi
  • ulkus akan bertahan 1-5 minggu
  • tes serologi mulai positif 1-4 minggu setelah ulkus hilang
  • 2-6 minggu setelah lesi primer hilang kemudian timbul erupsi kulit generalisata
  • lesi kulit akan hilang 2-6 minggu
  • sepertiga penderita yang tidak diterapi akan berlanjut menjadi sifilis tersier yang ditandai dengan gumma dikulit dan tulang, aneurisma aorta, meningitid tabes dorsalis, paresis

Sifilis Primer
  • ulkus yang tidak nyeri di vulva, vagina, serviks, anus atau di bibir
  • limfadenopati regional tanpa nyeri
  • ditemukannya kuman sifilis dengan bantuan mikroskop medan gelap
  • tes serologi positif

sifilis sekunder
  • papula skuamosa ekstragenital yang bilateral
  • kandiloma lata
  • pada pemeriksaan mikroskop medan gelap, positif pada tiap lesi
  • tes serologi positif
  • limfadenopati

sifilis kongenital
  • riwayat sifilis maternal
  • tes serologi positif
  • stigmata sifilis kongenital (hepatosplenomegali, anemia, ikterus, perubahan bentuk tulang)
  • lahir mati
  • prematur
  • plasenta yang besar

sifilis laten
  • riwayat tes serologi positif
  • ditemukan tanda-tanda bekas infeksi sifilis
  • lesi tidak ditemukan
  • tes serologi selalu positif, titer kemungkinan rendah

pemeriksaan laboratorium

1. tes serologi

  • VDRL + 3-6 minggu setelah invasi kuman atau 2-3 minggu setelah lesi primer
  • FTA-ABS
  • MHA-TP


2. identifikasi adanya treponema pallidum dengan mikroskop medan gelap

pencegahan

  • bila dicurigai terpapar sebaiknya segera diberikan terapi sebelum tes serologi menjadi positif
  • tes serologi untuk wanita hamil yang beresiko
  • pemakaian kondom


terapi sifilis primer

  • benzatin penisilin G2,4 juta unit IM dosis tunggal
  • tetrasiklin hidroklorid 4x500 mg selama 14 hari
  • dosisiklin 2x100 mg po selama 14 hari
  • eritromisin 4x500 mg selama 15 hari


terapi sifilis laten

  • benzatin penisilin G2,4 juta unit IM 3 minggu berturut-turut
  • tetrasiklin atau doksisiklin dengan dosis seperti sifilis primer


Herpes Simpleks


  • 85 % herpes disebabkan tipe 2
  • virus DA
  • tipe 2 sering menyebabkan rekurensi dibandingkan tipe 1
  • penularan dapat melalui hubungan seks atau pada bayi saat persalinan
  • masa inkubasi selama 2-7 hari


gejala prodormal

  • gatal kemudian lesi berupa erupsi vesikuler
  • vesikula akan menyebar secara cepat ke seluruh daerah vulva dan dapat menjadi ulkus yag nyeri
  • disuri
  • adenopati inguinal bilateral
  • demam
  • malaise
  • sekret yang encer dari vulva atau vagina
  • lesi bertahan sampai 6 minggu kemudian menhilang tanpa jaringan parut
  • antibodi terbentuk setelah 3 minggu infeksi
  • rekurensi terjadi 6 bulan setelah infeksi pertama
  • ulkus yang terjadi pada infeksi rekuren lebih kecil dari infeksi pertama


kemungkinan penyebab infeksi rekuren

  • senggama yang sering
  • pemakaian obat imunosupresi
  • demam
  • menstruasi
  • stress emosional


tes laboratorium

  • kenaikan 4x titer antibodi mencurigakan adanya infeksi primer
  • pada infeksi rekuren kenaikan titer antibodi mencapai 4x lipat


terapi

  • bersifat simptomatik
  • kebersihan
  • pakaian dalam yang longgar
  • analgetik oral
  • pemberian obat antivirus topikal
  • obat antivirus


obat antivirus

  • asiklovir 3x400 mg
  • famsiklovir 3x250 mg
  • valasiklovir 2x1000 mg

Infeksi Klamidia

  • E/ : klamidia trakomatis
  • merupakan infeksi seksual yang umum terjadi
  • biasanya bersifat asimptomatik


gejala yang dapat ditemukan

  • servisitis mukopurulen
  • salpingitis
  • sindroma uretra
  • limpogranuloma venetrum


laboratorium

  • kultur mikroorganisme dengan kultur jaringan
  • tes serologi
  • polymerase chain reaction (PCR)
  • DNA klamidia


penyulit

  • salpingitis
  • infertilitas
  • abortus
  • penyebaran infeksi ke bayi saat persalinan
  • persalinan prematur
  • endometritis postpartum


terapi

  • tetrasiklin 4x500 mg selama 7 hari
  • doksisiklin 2x100 mg selama 7 hari
  • eritromisin 4x500 mg selama 7 hari
  • ofloksasin 2x300 mg selama 7 hari


HIV (Human Immunodeficiency Virus)


  • pertama kali dilaporkan tahun 1981
  • HIV 1 dan HIV 2 adalah penyebab AIDS
  • kebanyakan disebabkan HIV 1
  • HIV 2 endemis di afrika barat
  • orang dengan HIV/AIDS mudah terserang penyakit tertentu misal pneumoni, TBC, diare
  • penderita AIDS sering meninggal karena tidak dapat mengadakan perlawanan terhadap penyakit tertentu
  • seseorang dapat mengidap HIV untuk beberapa tahun sebelum gejala timbul
  • PMS lainnya meningkatan kemungkinan seseorang yang tertular HIV atau menularkannya kepada orang lain


patogenesis

  • ditemukan immuno-supresi (penurunan kekebalan) t.u mediator imunitas seluler sehingga terjadi peningkatan berbagai infeksi dan neoplasma
  • T limfosit dapat dideteksi secara fenotipe manggunakan CD4 antigen permukaan
  • CD4 sebagai resptor virus
  • DNA virus masuk k DNA sel kemudian terjadi infeksi yang menyebabkan penurunan sel T
  • monosit makroffag juga dapat terinfeksi dan bila menyerang otak dapat menyebabkan neuro-psikiatri
  • orang dengan HIV(+) meningkatkan insidiensi sarkoma kaposi, limfoma sel B dan non Hodgin serta beberapa karsinoma lainnys
gejala klinik
  • masa inkubasi yang pasti tidak diketahui tapi umumnya 2-3 bulan
  • waktu rata-rata untuk timbulnya gangguan imunitas kurang lebih 10 tahun
  • bila infeksi dikaitkan dengan beberapa penyakit indikator maka diagnosis AIDS dapat ditegakkan
  • beberapa infeksi yang termasuk indikator diagnosis : kandidiasis pulmonal atau esopagus, herpes simpleks persisten, TBC, CMV (sitomegalovirus), pneumositis toksoplasmosis, kanker serviks dll
  • kadar CD4 <200/ul dapat dipertimbangkan untuk diagnosis AIDS pada individu dengan HIV (+)
Serologis
  • elisa (snzim linked immuno sorbent assays) dipakai untuk uji antibodi HIV
  • sensiitivitas uji elisa kurang lebih 99,5%
  • bila uji elisa(+) maka masih perlu dilakukan konfirmasi dengan uji suplementasi lain mis : western blot atau immuno fluorescence assay
penapisan
  • wanita pekerja seks
  • wanita yang pernah berhubungan seks dengan pengidap HIV
  • wanita yang tinggal di daerah endemis HIV
  • pekerjaan yang mempunyai resiko terkena HIV
  • permintaan sendiri

20 May 2012

Infeksi Alat Kandungan

Infeksi Alat Kandungan

- Di bagi menjadi :

  • Infeksi rendah : vulvitis, vaginitis, cervisitis disebabkan oleh bakteri, benalu, virus, myocis. Gejala paling umum : Leucorrea (Flour Albus)
  • infeksi tinggi : Endometritis, salphingitis, dan adnexitis
di batasi ostium uteri internum

Fluor Albus (keputihan)

  • fisiologis : jernih, tidak gatal, tidak berbau
  • disebabkan oleh transundat vaginal, sekret leher rahim, kelenjar bartholin dan kelenjar skene.
etiologi
  • corpus alineum
  • infeksi bakteri : G.Vaginalis, N.Gonorrhoeae, Chlamydia, M.Hominis,dll
  • linfeksi virus :DNA virus
1. Vulvitis

Radang selaput lendir labia dan sekitarnya.

gejala :
  • disuria
  • lekore dengan pruritus vulva
  • gangguan coitus
  • erythema pada labia dan introitus vagina
etiologi :
  • higiene yang kurang
  • gonococcus
  • candida albicans
  • trichomonas
  • oxyuris
  • diabetes
  • sekunder terhadap lokore dan fistel traktus genital
ulcus pada vulva :
  • ulcus tuberculosum
  • ulkus acutum vulva
  • ulcus lueticum/syphiliticum
  • ulcus molle
  • ulcus varicosum
komplikasi vulvitis :
  • bartholinitis
  • candyloma acuminata
penatalaksanaan :
  • terapi tunggal
2. Vaginitis

A. bakteri vaginosis :
  • disebut nonspesific vaginitis atau gandnerella vagintis
  • suatu perubahan flora bakteri vagina normal
diagnosis :
  • cairan vagina berbau
  • Ph sekret lebih dari 4.5
  • peningkatan jumlah sel pada sekret vagina
  • penambahan KOH ke sekret vagina menimbulkan bau amis
terapi :
  • metronidazole : 500 mg 2x1 /hari p.o. => 7 hari atau 2 g dosis tunggal p.o.
  • metronidazole gel 0.75 %, 5 g intravaginal 2x1 /hari =. 5 hari
  • klindamisin cream 2 %, 5 g intravaginal => 7 hari
  • klindamisin 300 mg per oral dua kali sehari untuk 7 hari
B. Trichomonas Vaginitis
  • PMS, Trichomonas vaginitis
  • sering ditemukan bersama bakterial vaginosis
diagnosis :
  • faktor kekebalan dan ukuran inoculum mempengaruhi penampilan gejala
  • sekret vagina purulen, berbau, dapat di sertai pruritus
  • erythema vagina dan macula colpitis (strawberry cervix)
  • Ph vagina lebih dari 5.0
  • Peningkatan leukosit dan motilitas trichomonas pada sekret secara mikroskopis
  • Whiff test dapat positive
terapi :
  • metronidazole 2 g dosis tunggal p.o. atau 2x500 mg p.o => 7 hari
  • partner seksual juga harus diobati
  • wanita yang tidak berespon terhadap terapi inisial harus diobati lagi dengan metronidazole 500 mg, 2x sehari selama 7 hari
  • bila tetap tidak da perbaikan terapi harus diikuti dengan 2 g dosis tunggal metronidazole selama 3-5 hari
  • bila tidak juga menunjukan perbaikan maka  harus dikonsulkan pada tenaga ahli.
C. Vulvovaginal Candidiasis
  • selama hidup, 75 % wanita pernah sekali terpapar VVC dan 45 % terpapar 2x atau lebih
  • disebabkan oleh candida albicans, 85-90 %
  • faktor predisposisi : penggunaan antibiotik, kehamilan, diabetes
diagnosis :
-gejala :
  • pruritus vulva
  • keluar sekret vagina
-sign :
  • sekret bervariasi dari encer jernih sampai kental/pekat
  • vaginal soreness
  • dispareunia
  • vulvar burning
  • irritasi
-laboratorium :
  • Whiff tes negative
  • elemen fungal
  • preparasi saline normal
  • Ph vagina biasanya normal
terapi :
  • derivat azole topikal
  • fluconazole 150 mg, dosis tunggal
  • steroid topikal
3. Cervisitis

serviks mempunyai 2 jenis epitel :
  • epitel squamosa
  • epitel glandular
penyebab inflamasi serviks tergantung dari epitel yang terkena
trichomonas, candida dan herpes simplex virus => inflamasi ektoserviks
N.GO dan C.Trachomatis => endocervicitis mukopurulen

diagnosis :
  • sekret endoserviks purulen, biasanya kuning kehijauan
  • erotio portionis
  • vaginitis atau vulvitis sekunder
  • nabothi ovula pada kasus kronis
etiologi :
  • infeksi gonokokus
  • benda dalam intrauterin
ulcus portio :
  • ulcus carsinomatosum
  • ulcus syphiliticum
  • ulcus tuberculosum
terapi :
  • antibiotika untuk terapi uncomplicated lower genital tract infection

4. Pelvic Inflamatory Disease (PID)
  • PID disebabkan oleh mikro organisme pada endoserviks yang naik ke endometriumm dan tuba fallopi secara hematogen, limfogen, atau secara langsung
  • kebanyakan kasus disebabkan PMS
  • Neiserria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis serta H influenza (jarang)
diagnosis :

bedasarkan gejala-gejala :
  • nyeri pinggang
  • cervical motion
  • adnexal tenderness
  • demam
terapi :
  • antibiotika spektrum luas

Endometritis Akut

terutama post partum atau post abortum

gejala :
  • demam
  • lochia berbau : terkadang purulen
  • lochia lama berdarah => metrorrhagi
  • nyeri, bila radang menjalar ke parametrium dan perimetrium
terapi :
  • uterotonika
  • bed rest dengan posisi fowler
  • antibiotika
  • kuret bila diperlukan

Endometritis Kronis

gejala :
  • fluor albus yang keluar dari ostium
  • metrorrhagia or menorrhagia
terapi :
  • kuretase

Myometritis

biasanya merupakan lanjutan dari endometritis

gejala dan terapinya => endometritis
diagnosis : PA

Salpingitis Akut

paling sering disebabkan oleh N.Gonorrhoea.

gejala :
  • nyeri abdomen bawah dan pelvis => bilateral
  • sekret purulen
  • nausea, vomitus, headache
  • kadang disertai demam
symptom :
  • nyeri abdomen => kuadran bawah
  • distensi abdomen bila ada peritonitis pelvis
  • cervical motion tenderness
laboratorium :
  • leukositosis
  • cairan peritoneum yang keruh pada kuldocentesis
  • mikroskopis ditemukan bakteri dan leukosit
DD :
  • aapendisitis akut
  • kehamilan ektopik
  • ruptur kista lutein pada corpus
  • diverticulitis
  • torsi masa adneksa
  • leiomioma
  • endometriosis
  • infeksi traktus urinaria
konflikasi :
  • peritonitis pelvis
  • ileus paralitik
  • selulitis pelvis dengan trombophlebitis
  • abses tuba, tuboovarial, atau cavum douglas
pencegahan :
  • deteksi dini dan pemberantasan PMS

terapi :
A. Kasus rekuren

  • terapi seperti pada salphyngitis akut
B. Kasus kronis

antibiotika :
  • tetracycline, ampicillin
  • sefalosporin, 4x500 mg sehari p.o => 3 minggu
analgesik :
  • acetaminophen atau aspirin

parametritis (selulitis Pelvis)

  • radang jaringan longgar di dalam ligamentum latum
  • biasanya unilateral

etiologi :
  • dari endometritis 9percontinuatum, limfogen, hematogen)
  • rbekan serviks
  • perforasi uterus oleh alat-alat
gejala :
  • febris tinggi
  • nyeri unilateral
diagnosis :
  • infiltrat pada rektal taoucher
  • uterus terdesak ke sisi yang sehat

penyulit :
  • eksaserbasi akut
  • trombophlebitis
  • abses parametrium

DD:
  • adneksitis

terapi :
  • antibiotika-resoptif

Pelveoperitonitis (perimetritis)


  • sebagai lanjutan salpingoophoritis
  • kadang terjadi dari endometritis atau parametritis


etiologi :

  • GO
  • sepsis (post partum atau post abortum)
  • appendistis


terapi:

  • sesuai etiologi


Tuberculosis Pelvis

  • tuba (90%)
  • endometrium (70%)


diagnosis :

  • infertilitas
  • TB paru aktif atau dalam penyembuhan
  • HSG, Histeroskopi atau laparoskopi
  • bakteri M.TBC ditemukan pada cairan menstruasi atau biopsi spesimen


laboratorium

  • diitemukan bakteri dari kuretase atau biopsi dengan preparat langsung atau kultur
radiologi :

  • foto thorax
  • HSG


DD :

  • schistosomiasis
  • enterobiasis
  • carcinoma
  • infeksi fungal


komplikasi :

  • infertilitas
  • peritonotos
  • tuberculosa
  • generalisata


terapi :
A. Medikamentosa
= terapi TBC

B. Operatif
sebelum tindakan operasi pasien harus diberi antimmikroba selama 12-18 bulan

indikasi terapu operatif :

  • terapi medikomentosa gagal
  • resisten atau rekuren
  • gangguan menstruasi yang menetap
  • fistel

Latest Instagrams

© Vanisa Desfriani. Design by FCD.