[Review] (BUKAN) SALAH WAKTU



Judul : (Bukan) Salah Waktu
Penulis : Nastiti Denny
Penerbit : Bentang Pustaka
Penunting : Fitria Sis Nariswari
Tebal Buku : viii + 248 halaman
ISBN : 978-602-7888-94-4
Harga : Rp. 46.000.-

----

Tiba-tiba saja aku seperti masuk kedalam mimpi sekar -seorang wanita yang rela melepaskan pekerjaannya demi sang suami- yang ternyata tak seperti apa yang di harapkannya. Menjadi ibu rumah tangga tak seutuhnya membuat dia bahagia. 

Dimulai dengan konflik kecil tentang sekar yang tak bisa masak hingga konflik yang memicu pertengkaran besar dalam rumah tangganya hadir. Tentang masa lalu yang disembunyikan oleh sekar dan suaminya -Prabu.
Konflik-konflik yang saling terhubung didalam novel inilah yang bisa membuatmu tak ingin tidur dan menghabiskan waktu untuk terus membaca hingga akhir.

Aku memberikan Empat dari Lima Bintang untuk novel ini.

Pertama. Untuk setiap quotes indah yang menyertai novel ini. Seperti kata-kata yang diselipkan prabu disetiap tempat untuk sekar. Penulis mampu mengubah hal sederhana menjadi istimewa.

Kedua. Untuk setiap gejolak dan rasa yang mengguncang hati saya hingga sempat menitikkan air mata. Karena begitulah sesama wanita, entah di dunia nyata ataupun dalam cerita. Penulisnya yang seorang wanita mampu mendalami denga baik karakter sekar.

Ketiga. Alur yang maju mundur membuatku seolah-olah diajak masuk kedalam lorong waktu. Bisa kapan pun pergi dan kembali ke masa lalu. Alur yang terasa lambat diawal dan cepat diakhir membuatku merasa, begitulah cara kita menikmati waktu. Terkadang begitu terasa lambat, dan disatu saat berjalan begitu cepat.

Novel dengan tema wanita dalam cerita ini benar-benar membawa kehidupan seorang wanita. Tak hanya mampu menggambarkan tokoh utama, tapi juga tokoh wanita pendamping lain yang bisa kita simak ceritanya. Kisah mama, mira, mbok ijah ikut mewarnai indahnya novel ini. 

Cover novel ini tak jauh dari tema novel, dengan gambar jam dinding dan angka yang bertebaran. Bagi pecinta cover unik seperti saya, mungkin akan melewatkannya. Namun, saat membaca blurb nya membuat saya tak bisa melewatkan novel yang satu ini.

Aku tidak memberikan Lima Bintang pada novel ini, karena

Pertama, Awal yang terlalu detail. Menjelaskan bagaimana isi rumah dan segala sesuatu yang mendetail membuat imajinasiku terhambat. Membayangkan detail demi detail membuat cerita menjadi lebih berat.

Kedua. Banyak kalimat ambigu yang membuat saya harus membaca ulang beberapa kalimat. Seperti "Panci yang berisi sup yang aromanya membuat perutnya ingin segera di isi masih penuh" pada halaman 9. Dan ayah prabu yang memiliki pekerjaan berbeda, saat membaca novel yang kedua kalinya saya baru 'ngeh' kalau ternyata pekerjaan di pertanahan adalah pekerjaan ayah prabu 11 tahun yang lalu.

Ada banyak hal dan kejadian yang membuat kita sadar, bahwa kita harus menerima kehidupan dan keputusan yang telah kita buat. Entah itu membuat kita merasa sakit dan pahit. Ataupun bahagia dan manis. Pada akhirnya, bagaimana sikap yang kita lakukan pada setiap kejadianlah yang menentukan rasa apa yang akan hadir dalam hidup kita. Dan salah satu sikap yang akan membuat kita bahagia adalah dengan cara memaafkan, baik itu memaafkan diri sendiri maupun orang lain.

Semua hal yang terjadi BUKANlah karena keSALAHan WAKTU.
Waktulah yang membuat kita hidup dan bahagia.


TULISAN INI DIIKUTSERTAKAN DALAM:

http://www.kampungfiksi.com/2014/05/lomba-review-bukan-salah-waktu.html

7 comments

  1. Sebagai sebuah debut, novel ini sudah oke ya. Jadi pengen bisa nulis fiksi, hehe. Semoga berjaya ya dalam kontes ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin.. sama mas, isha juga lagi pengen bikin novel... lagi menggebu2 nih semangatnya :D

      Delete
  2. oke keren sekali review novelnya ..ingin bacaaa :(

    ReplyDelete