[BeraniCerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

credit
"Ibu tahu, setiap kali kamu berbohong. Kamu memainkan cincin itu." Ibu menatapku dengan sorot pandang yang tegas tanpa mengedip. Mataku melihat lantai, melihat kaki ibu yang tak semulus dulu. Kaki itu pergi, meninggalkan bayangan di atas lantai.

Aku tak tahu, cara apa yang harus aku pakai untuk menebus cincin ibu yang kuambil dari lacinya. Ini bukan pertama kalinya aku membohongi ibu. Aku heran, ibu selalu tahu setiap kali aku berbohong padanya. Dan setiap itu pula aku selalu melakukan kebodohan yang sama; memainkan cincin yang di belikan ibu.

Cincin milikku, dan milik ibu. Memiliki permata yang sama. Putih, bening dan jernih. Ibu bilang aku harus seperti permata itu, dan tak boleh ada sedikit pun noda apalagi noda akibat aku berbohong padanya.

Ah, sudahlah. Akan ku pikirkan nanti bagaimana caranya menebus cincin ibu yang ku gadaikan itu.

*  *  *

"Ibu.." Mulutku terbata pelan, hanya kata itu yang bisa kuucapkan saat ku lihat cincin ibu berada di atas meja  kamarku. Ku lihat ada secarik kertas di bawahnya.

Ibu telah menebusnya, cincin pernikahan ibu dan ayahmu dulu. Jadilah anak yang shalehah, itu cukup buat ibu dan ayahmu. Ibu pergi ke negeri orang pagi ini. Kamu tak perlu lagi berbohong dan mencari uang demi masa depanmu, ibu akan membantu dan mendo'akanmu. 

Aku berlari dan menyusuri setiap sudut rumah ini -hingga kamar ibu. Tak ada sesuatu apapun di sana, kosong. Seperti hatiku. Ku tatap cincin dalam genggam tangan. Hanya ini yang dia tinggalkan. Dan sesuatu bernama kenangan.

21 comments

  1. ceritanya tentang cincin baru tahu nih heheheh

    ReplyDelete
  2. errhh.. menyentuh mbak...
    sesuatu yang bernama kenangan >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mbak vey, kenangannya di simpan baik2 ya :)

      Delete
  3. akhirnya si dia menyesal karena tak jujur pada ibunya :D
    aku nggak bisa bikin fiksi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mas, udah mampir ke sini. salam kenal :)

      ayoo. pasti bisa :)

      Delete
  4. mungkin kalau kalimat yang isinya surat itu diberi paragraf baru atau tulisannya miring, pasti aku nggak bingung kalau itu ternyata adalah surat. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu sudah di miringkan sebenarnya, tapi gak kelihatan ya mbak? isha pakai bold aja :)

      Delete
  5. Ibu memang selalu punya intuisi ya.. :)

    ReplyDelete